Aku menemukan diriku memikirkan beberapa teman-teman dekatku di jurusan. Ada kekecewaan besar selama aku berteman dengan mereka. Apakah mereka tau bahwa aku banyak mengalah untuk mereka demi menjaga pertemanan ini. Tak banyak yang aku pikirkan ketika memilih teman, yang terlintas di benakku adalah aku hanya ingin memberi dan berguna buat mereka. Aku meletakkan sayang di hatiku untuk mereka. Tulus sekali yang aku rasakan jalinan pertemanan aku rajut untuk mereka. Terkadang aku sampai menangis jika aku mengingat mereka karena aku rindu.
Aku begitu takut membuat mereka sedih. Aku terlalu takut jika aku berbuat salah kepada mereka. Begitulah aku menjaga perasaan mereka. Aku selalu ingin mereka bahagia dan selalu mendukung dengan pilihan mereka.
Aku begitu mempercayai mereka, mereka adalah teman yang baik dan mereka adalah sahabat-sahabat terdekatku. Dengan mereka, aku bersama menjalani hari-hariku.
Suatu ketika, aku menemukan luka-luka kecil di hatiku yang meradang. Sakit begitu kurasa. Aku memang terbiasa memendam sedih, berusaha melupakan, dan memaafkan ketika disakiti. Tapi berulang kali mereka menyakiti, akhirnya aku ungkapkan kepada mereka dan sampai aku tak kuat menahan emosi karena aku sudah jenuh dengan perlakuan mereka. Terkadang mereka minta maaf tapi tak jarang mereka menyakiti kembali. Apakah mereka tau, aku sakit diperlakukan seperti ini.
Di saat masa tersulit bagiku, mei 2012-2013, tak kudapati kepedulian mereka terhadapku bahkan ketika aku sangat butuh bantuan, mereka tak ada yang membantu.
Apakah begini pertemanan yang aku inginkan? Tentu tidak... yang aku tau, berteman itu tidak akan menyebabkan kesakitan di antaranya. Berteman itu menjaga, berbagi, dan sayang tulus ketika sedih maupun senang serta tidak akan memicu sesuatu yang buruk. Berteman itu adalah mengerti dan memahami bagaimana keadaan temannya. Berteman itu adalah ikut bahagia dan mendukung kesuksesan temannya. Berteman itu adalah tetap memberi support dan doa ketika kesusahan menimpa temannya. Tapi itu yang tidak aku dapat dari pertemanan ini.
Luka ini mungkin sudah sangat meradang. Aku tidak marah dengan mereka, tidak juga benci dengan mereka. Aku begitu sayang dengan mereka walaupun mereka tak akan bisa menyadari itu. Di kejauhan aku selalu mendoakan terbaik buat mereka. Maafkan aku yang memilih jalan ini, aku menjaga jarak dengan mereka karena aku tak ingin aku terluka dan menangis.
Aku hanya ingin persahabatan yang tulus bukan persahabatan yang dibuat-buat dengan banyak kepentingan.

0 comments:
Post a Comment