Sejak kecil aku merasa sangat berbeda. Aku menganggap aneh banyak orang dan baru aku sadari bahwa akulah yang aneh. Banyak hal yang berbeda dengan diriku dengan anak-anak seusiaku saat itu. Banyak yang tak tau sisi tersembunyi dari diriku. Banyak yang berusaha mengenalku dari sudut pandang mereka yang berbeda. Mereka tidak tau aku berbeda dalam banyak hal dan mereka sama sekali tak menyadari itu. Sesuatu yang mengoyak pikiranku, akan selalu aku pikirkan sampai aku menemukan jawaban untuk pikiranku. Sesuatu yang membekas di hatiku, akan selalu aku rasakan sampai aku menemukan alasan di balik itu. Dan akhirnya kepekaanku meningkat tanpa aku sadari. Aku diam dan menerima bukan berarti aku tak tahu, aku diam dan menerima karena aku memakai toleransi tinggi dalam hidupku. Aku banyak 'mengalah' karena aku memakai 'sayang' yang ada dalam diriku untuk orang lain. Tidak sulit untukku memahami orang lain tapi cukup sulit untukku bersikap tegas karena sikap toleransiku yang cukup tinggi.
Aku bertemu dengan seseorang yang menyadarkanku banyak hal tentang diriku dan dia yang mengatakan aku orang unik yang pernah dia temui. Dia sangat hebat karena hanya dia yang tau banyak tentang diriku yang tersembunyi. Sebelum bertemu dengannya, aku cenderung mengabaikan 'kepekaanku' dalam melihat banyak hal. Dia mengatakan aku akurat dalam menganalisis sesuatu dan itu tak pernah aku sadari. Aku hanya menyadari bahwa aku seseorang yang lugu dan mudah dibohongi, kekanak-kanakan, dan dia membantahnya, aku bukan seperti itu.
Satu persatu ujian datang dan ujian itu lebih banyak berbenturan dengan orang lain. Ternyata dari situlah kepekaanku terlatih. Allah mengujiku karena Allah sayang padaku. Satu persatu terlewati dan kepekaanku semakin meningkat. Aku lebih cepat mengenali orang lain. Aku lebih cepat mengetahui dan menilai baik dan buruk. Aku lebih cepat menentukan pilihan. Aku lebih cepat menganalisis dengan 2 hal yang aku punya yaitu otak dan hatiku. Aku juga lebih bisa menjaga mulutku untuk tidak banyak berbicara hal yang tidak perlu.
Aku sudah banyak mengabaikan 'kepekaan' yang aku miliki. Pengabaian kepekaan dan penggunaan toleransi yang tidak pada tempatnya yang selama ini menjadikanku sebagai sasaran empuk untuk didzalimi orang lain.
Terima kasih Ya Allah karena Engkau berikanku kesempatan belajar banyak hal.

0 comments:
Post a Comment